Berita17 Dilihat

*KEBUN TERAKHIR*

_*Ketika Manusia Kehilangan Keangkuhannya di Hadapan Tanah*_

Oleh Rizal Tanjung

Ada puisi yang berbicara tentang kematian. Ada pula puisi yang menggunakan kematian untuk membongkar cara manusia menjalani kehidupan.

“Kebun Terakhir” karya Anto Narasoma berada di wilayah kedua.

Puisi ini bukan sekadar renungan tentang kuburan. Ia adalah pembongkaran terhadap kesombongan manusia—terhadap “aku”, kemewahan, gelar, pencitraan, kepalsuan, dan seluruh atribut yang dibangun manusia untuk meyakinkan dirinya bahwa ia penting.

Anto Narasoma, penyair dan aktor yang dikenal di lingkungan kesusastraan Indonesia dan berasal dari Sumatera Selatan, menghadirkan puisi dengan spontanitas yang terasa bebas, tetapi sesungguhnya terukur. Ia tidak membangun metafora yang terlalu berjarak dari kehidupan sehari-hari. Justru kata-kata yang sederhana—kebun, tanah, tulang, nama, ijazah, kursi terdepan, joget salsa, plangak-plongok—dijadikan pisau untuk membedah manusia.

Dan pisau itu mengarah pertama-tama kepada kata yang paling sering kita banggakan:

aku.

«tak ada kesombongan
tak ada kehebatan
tak ada kata aku dalam perilaku keangkuhan setinggi gunung»

Manusia hidup dengan membangun “aku”.

Aku punya.

Aku hebat.

Aku terkenal.

Aku berkuasa.

Aku kaya.

Aku pintar.

Aku memiliki gelar.

Aku memiliki pengikut.

Tetapi kematian mempunyai cara paling sederhana untuk menghancurkan seluruh bangunan itu: ia menghapus subjeknya.

Dari aku memiliki menjadi aku pernah memiliki.

Dari aku adalah menjadi dia pernah menjadi.

Dari namaku menjadi namanya.

Kematian tidak perlu berdebat dengan kesombongan. Ia hanya menunggu waktu.

—

KEBUN, BUKAN KUBURAN

Pemilihan kata “kebun” merupakan pusat kekuatan puisi ini.

Kuburan adalah tempat manusia mati.

Tetapi kebun adalah tempat sesuatu tumbuh.

Maka kematian dalam puisi Anto Narasoma bukan sekadar akhir. Ia merupakan perubahan bentuk.

Tubuh kembali menjadi tanah.

Tanah memberi kehidupan kepada akar.

Akar melahirkan pohon.

Pohon menumbuhkan daun.

Daun gugur.

Dan segala sesuatu kembali kepada tanah.

Manusia yang sepanjang hidup merasa sebagai penguasa alam akhirnya kembali menjadi bagian kecil dari alam.

Kita berkata:

“Ini tanahku.”

Kematian menjawab:

“Engkau bagian dari tanah.”

Di situlah kesombongan kehilangan bahasa.

—

KEMATIAN ADALAH DEMOKRASI TERAKHIR

Di dunia manusia terdapat kelas, jabatan, kekayaan, popularitas dan kekuasaan.

Ada yang duduk di kursi terdepan.

Ada yang berdiri di luar pintu.

Ada yang mempunyai jutaan pengikut.

Ada yang tidak dikenal siapa pun.

Tetapi kematian tidak mengenal kartu VIP.

Ia tidak membaca curriculum vitae.

Ia tidak memeriksa rekening.

Ia tidak bertanya berapa banyak gelar yang tergantung di dinding.

Ia hanya membuka satu pintu.

Tanah.

Karena itu kematian adalah semacam demokrasi terakhir: semua manusia akhirnya kehilangan atribut sosialnya.

Raja dan rakyat.

Kaya dan miskin.

Terkenal dan anonim.

Aktor dan penonton.

Penyair dan pembacanya.

Semuanya menuju bahasa yang sama:

tulang dan tanah.

—

PUISI INI TIBA PADA ZAMAN YANG TEPAT

Menariknya, “Kebun Terakhir” lahir pada 27 September 2026, ketika manusia hidup dalam zaman yang sangat berbeda dari masa-masa sebelumnya.

Kita sekarang mempunyai teknologi yang memungkinkan wajah disimpan.

Suara direkam.

Tulisan diarsipkan.

Video tidak mudah hilang.

Akun digital dapat bertahan setelah pemiliknya meninggal.

Bahkan kecerdasan buatan dapat merekonstruksi suara, wajah, dan gaya komunikasi seseorang.

Manusia modern seolah sedang membangun makam digital untuk dirinya sendiri.

Dulu manusia mendirikan monumen untuk melawan lupa.

Sekarang manusia membuat akun.

Dulu nama dipahat pada batu.

Sekarang nama ditanam di mesin pencari.

Dulu kenangan disimpan dalam album.

Sekarang disimpan di awan digital.

Tetapi teknologi hanya dapat menyelamatkan jejak, bukan manusia.

Ia dapat menyimpan foto, tetapi tidak menyimpan kesadaran.

Dapat menyimpan suara, tetapi tidak mengembalikan pemilik suara.

Dapat meniru gaya seorang penyair, tetapi tidak menghidupkan pengalaman batinnya.

Data bukan ingatan. Arsip bukan kehidupan. Simulasi bukan kehadiran.

Di sinilah puisi Anto Narasoma menjadi sangat kontemporer:

«menjadi catatan tanpa ingatan»

Sebuah kalimat yang terasa seperti telah ditulis untuk zaman digital.

Kita mungkin akan meninggalkan lebih banyak data daripada manusia-manusia sebelum kita. Tetapi belum tentu meninggalkan lebih banyak makna.

—

MANUSIA DIGITAL DAN PENYAKIT “TERLIHAT”

Zaman kita adalah zaman ketika manusia tidak hanya hidup, tetapi juga mempertontonkan kehidupannya.

Wajah.

Rumah.

Makanan.

Perjalanan.

Pakaian.

Prestasi.

Pendapat.

Kesedihan.

Bahkan kematian pun dapat menjadi konten.

Manusia semakin sibuk memastikan dirinya terlihat.

Tetapi terlihat tidak sama dengan berarti.

BACA  Turnamen Futsal Walikota Cup Resmi Dibuka, Ruben: Kegiatan ini Rutin dilaksanakan Setiap Tahun

Viral tidak sama dengan bernilai.

Banyak pengikut tidak sama dengan banyak makna.

Popularitas tidak sama dengan kedalaman.

Dan algoritma bukan hakim kehidupan.

“Kebun Terakhir” seakan datang dari bawah tanah untuk mengingatkan:

jangan salah mengira citra sebagai kehidupan.

Sebab ketika semua layar padam, manusia akan kembali berhadapan dengan dirinya sendiri.

Tanpa filter.

Tanpa kamera.

Tanpa likes.

Tanpa pengikut.

Tanpa kursi terdepan.

—

“PLANGAK-PLONGOK”: KETIKA SATIRE MENJADI PISAU

Bagian paling menarik justru muncul ketika puisi tiba-tiba memakai bahasa yang sangat sehari-hari:

«meski joget salsa disaat duduk pada kursi terdepan, plangak-plongok pun tumbang ke kebun ini»

Ada “joget salsa”.

Ada “kursi terdepan”.

Ada “plangak-plongok”.

Secara estetika, kata-kata ini tampak sederhana, bahkan jenaka.

Tetapi justru di situlah spontanitas Anto Narasoma bekerja.

Ia tidak membiarkan puisi terperangkap dalam keseriusan metafisik.

Ia menyelipkan tawa, kemudian menjadikan tawa itu pisau.

Manusia boleh berjoget.

Boleh duduk di kursi terdepan.

Boleh mempertontonkan dirinya.

Tetapi pada akhirnya:

semua tumbang ke kebun yang sama.

Ini bukan humor semata.

Ini adalah satire terhadap manusia yang mengira posisi di panggung kehidupan dapat menyelamatkannya dari tirai terakhir.

Sebagai penyair sekaligus aktor, Anto Narasoma tampaknya memahami betul bahwa panggung adalah tempat manusia memainkan identitas.

Tetapi ada satu pertunjukan yang tidak memiliki babak tambahan:

kematian.

Lampu padam.

Tirai turun.

Pertunjukan selesai.

—

DIALOG DENGAN PENYAIR DUNIA

“Kebun Terakhir” menarik jika ditempatkan dalam percakapan dengan tradisi puisi dunia tentang kefanaan.

Rainer Maria Rilke membawa kematian ke ruang eksistensial dan metafisik. Anto Narasoma lebih membumikan kematian: tulang, tanah, kebun, nama yang gugur. Keduanya bertemu pada kesadaran bahwa kematian merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Emily Dickinson sering menghadirkan kematian dengan ketenangan yang ganjil. Anto Narasoma juga tidak membutuhkan teriakan; kematian cukup hadir sebagai kepastian.

Walt Whitman melihat tubuh dan kematian dalam hubungan dengan alam. Anto Narasoma membawa tubuh lebih jauh: tubuh akhirnya kehilangan seluruh identitas dan kembali menjadi materi bumi.

T.S. Eliot memperlihatkan kegersangan manusia modern di tengah peradaban. Anto Narasoma, dalam konteks yang berbeda, menghadirkan kegersangan yang lain: manusia modern yang sibuk membangun citra tetapi lupa mengisi hidup.

Pablo Neruda banyak mempertemukan tubuh, cinta, alam, dan waktu. Pada Anto Narasoma, tubuh akhirnya ditelanjangi oleh kematian hingga tinggal tulang dan tanah.

Sementara Rabindranath Tagore sering melihat kematian dalam cakrawala perjalanan batin dan kepulangan. Anto Narasoma memilih bahasa yang lebih satiris dan konkret.

Perbedaannya justru memperlihatkan sesuatu yang penting:

kematian adalah tema universal, tetapi setiap penyair menemukan tanah bahasanya sendiri untuk menghadapinya.

Anto Narasoma tidak perlu menjadi Rilke, Dickinson, Whitman, Eliot, Neruda atau Tagore.

Ia berbicara dari tanahnya sendiri.

Dari bahasa Indonesia.

Dari pengalaman sosialnya.

Dari spontanitasnya.

Dari kegelisahan zamannya.

Dan dari sanalah puisinya memasuki percakapan universal.

—

“KITA HANYALAH KENANGAN”

Barangkali salah satu kalimat paling sunyi dalam puisi ini adalah:

«kita hanyalah kenangan»

Perhatikan kata “hanyalah”.

Manusia sepanjang hidup berusaha menjadi lebih dari sekadar kenangan.

Ia ingin menjadi legenda.

Ingin menjadi sejarah.

Ingin menjadi nama besar.

Tetapi waktu tidak menjanjikan itu.

Nama adalah daun.

Dan daun mempunyai satu hukum:

gugur.

«menggugurkan daun-daun namamu»

Metafora ini menyatukan judul dan isi puisi.

Kebun.

Daun.

Gugur.

Tanah.

Manusia.

Kematian.

Semuanya berada dalam satu lingkaran.

Nama yang dahulu diteriakkan menjadi bisikan.

Bisikan menjadi catatan.

Catatan menjadi arsip.

Arsip menjadi debu sejarah.

Dan suatu hari seseorang mungkin membaca nama kita lalu bertanya:

“Siapa dia?”

Itulah kemenangan waktu.

—

“IJAZAH TAK SAH”: KETIKA KEHIDUPAN MENJADI DOKUMEN PALSU

Kemudian Anto Narasoma menulis:

«segala kebohongan
atas selembar nyawa yang tertulis di dalam ijazah tak sah»

“Ijazah” di sini dapat dibaca lebih luas daripada sekadar dokumen akademik.

Ia menjadi metafora legitimasi palsu manusia.

Gelar.

Jabatan.

Penghargaan.

Status.

Kekayaan.

Popularitas.

Semua dapat menjadi “ijazah” yang digunakan manusia untuk membuktikan bahwa dirinya penting.

Tetapi kematian tidak memerlukan sertifikat.

Tidak ada gelar yang dapat memperpanjang satu detik.

Tidak ada penghargaan yang dapat membatalkan ajal.

Tidak ada jabatan yang membuat manusia kebal terhadap tanah.

Maka pertanyaan paling penting bukan:

“Apa gelarmu?”

Melainkan:

“Apa isi hidupmu?”

BACA  Bangun Polri Presisi Berbasis Data, Puslitbang Uji Penguatan Tipikor dan MBG

—

ISI: KATA TERPENTING DALAM PUISI

Puisi ditutup:

«ingat,
kita adalah isi paling menentukan di kebun kematian ini»

Inilah kunci seluruh puisi.

Isi.

Bukan kemasan.

Bukan citra.

Bukan status.

Bukan penampilan.

Bukan popularitas.

Isi.

Apa yang kita lakukan.

Apa yang kita cintai.

Apa yang kita perjuangkan.

Apa yang kita ciptakan.

Apa yang kita berikan.

Apa yang kita tanam.

Sebab manusia mungkin kehilangan harta, tetapi masih dapat meninggalkan kebaikan.

Mungkin kehilangan jabatan, tetapi dapat meninggalkan teladan.

Mungkin kehilangan tubuh, tetapi dapat meninggalkan karya.

Mungkin kehilangan nama, tetapi dapat meninggalkan perubahan dalam kehidupan orang lain.

Itulah sebabnya pertanyaan paling penting bukan:

“Berapa banyak yang telah kita miliki?”

Melainkan:

“Apa yang tumbuh karena kita pernah hidup?”

—

KEBUN YANG KITA TANAM SEBELUM MATI

Setiap manusia sesungguhnya sedang menanam kebun.

Setiap kata adalah benih.

Setiap perbuatan adalah benih.

Setiap kebohongan adalah benih.

Setiap kasih sayang adalah benih.

Setiap penghinaan adalah benih.

Setiap karya adalah benih.

Kita mungkin tidak melihat bagaimana semuanya tumbuh.

Tetapi suatu hari, setelah kita pergi, orang lain akan hidup di bawah bayangannya.

Seorang anak mungkin mengingat satu kalimat yang pernah kita ucapkan.

Seorang murid mungkin menjalani hidup karena ilmu yang pernah kita berikan.

Seorang pembaca mungkin berubah karena satu puisi.

Seseorang mungkin sembuh dari luka karena kebaikan yang kita lakukan tanpa publikasi.

Dan semua itu mungkin tidak pernah masuk media sosial.

Tidak viral.

Tidak mendapat likes.

Tidak menjadi berita.

Tetapi justru di situlah nilai kehidupan sering bersembunyi:

dalam kebaikan yang tidak membutuhkan penonton.

—

KEBUN TERAKHIR DAN MAKNA HIDUP

Karena itu, “Kebun Terakhir” sesungguhnya bukan puisi pesimistis.

Ia justru sebuah puisi etis.

Ia tidak berkata:

“Karena kita akan mati, maka hidup tidak berarti.”

Sebaliknya:

Karena kita akan mati, maka hidup harus berarti.

Kematian bukan alasan untuk berhenti mencintai.

Kematian adalah alasan untuk mencintai dengan lebih sungguh.

Kematian bukan alasan untuk berhenti berkarya.

Kematian adalah alasan untuk tidak menyia-nyiakan bakat.

Kematian bukan alasan untuk merendahkan kehidupan.

Kematian adalah alasan untuk menghormati waktu.

Kita tidak dapat menentukan kapan daun kita gugur.

Tetapi kita masih dapat menentukan:

pohon seperti apa yang kita tumbuhkan sebelum daun itu jatuh.

—

APA YANG KITA TINGGALKAN?

Pada akhirnya, manusia tidak dapat membawa dunia ke dalam kubur.

Kekayaan tinggal.

Jabatan tinggal.

Rumah tinggal.

Mobil tinggal.

Gelar tinggal.

Foto tinggal.

Akun digital mungkin tinggal.

Bahkan suara kita mungkin masih dapat diputar.

Tetapi manusia itu sendiri pergi.

Yang tersisa hanyalah jejak.

Dan jejak pun tidak abadi.

Karena itu, ukuran kehidupan bukanlah berapa lama nama kita bertahan di internet.

Bukan berapa banyak orang mengikuti kita.

Bukan berapa banyak orang mengenal kita.

Bukan berapa besar panggung yang pernah kita duduki.

Melainkan:

apa yang kita tanam di kehidupan orang lain.

Itulah yang membuat “Kebun Terakhir” menjadi lebih dari puisi tentang kematian.

Ia adalah peringatan terhadap kesombongan manusia modern.

Ketika dunia semakin sibuk membangun citra, puisi ini mengembalikan manusia kepada tanah.

Ketika teknologi semakin sibuk menyimpan data, puisi ini bertanya tentang makna.

Ketika manusia semakin ingin terlihat, puisi ini bertanya tentang isi.

Ketika manusia semakin takut dilupakan, puisi ini mengingatkan bahwa nama pun mempunyai musim.

Dan ketika manusia semakin percaya bahwa teknologi dapat memperpanjang segala sesuatu, puisi ini berdiri di hadapan kita seperti sebuah batu nisan yang belum ditulisi:

tidak ada teknologi yang dapat menghapus kefanaan.

Yang dapat kita lakukan hanyalah mengisi waktu sebelum waktu mengisi kita dengan tanah.

Sebab pada akhirnya, kita semua akan sampai ke kebun itu.

Tidak ada kursi terdepan.

Tidak ada panggung.

Tidak ada kamera.

Tidak ada algoritma.

Tidak ada gelar.

Tidak ada “aku”.

Hanya tanah.

Dan tanah akan menerima kita tanpa bertanya siapa kita.

Tetapi sebelum sampai ke sana, kehidupan memberi kita satu kesempatan terakhir:

menanam sesuatu.

Maka barangkali pertanyaan terbesar “Kebun Terakhir” bukanlah:

“Kapan aku mati?”

Melainkan:

“Apa yang akan tumbuh setelah aku tiada?”

Sebab manusia pada akhirnya pasti menjadi tanah.

Tetapi tidak setiap manusia meninggalkan kebun.

—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.