Sastra17 Dilihat

*JOKO PRANOTO, KAU MEMANG “GILA” !*

Oleh Bambang Oeban

Dua bulan lalu …
Joko Pranoto, nekad terbang dari Palembang ke Jakarta, pulang pergi dalam sehari, bersilahturahmi ke gubugku di pelosok desa Singasari, Jonggol, Bogor. Pengusaha kelapa sawit, mau buang-buang waktu, tentu ada sesuatu yang hendak dituju, bukan mencari lagi mimpi tapi hendak menafasi dunia pentas yang sudah begitu lama ditinggalkan. Aku menyebut Joko Pranoto sosok yang punya energi hidup sekeras baja, berkomitmen, bertanggung jawab, bukan saja cerdas, namun dibarengi kerja keras, pantang mundur menghadapi tantangan hidup.

Joko Pranoto meninggalkan dunia teater dan kepenyairan, bukan sebagai pembenci yang kecewa, karena dunia seni tak bisa diandalkan untuk bisa memperpanjang hidup, tapi semacam ada pemberontakan, mengajak para pelaku seni untuk melek batin bahwa hidup itu, realistis, antara imajinasi dan realisasi harus seimbang dan diujudkan.

Joko Pranoto di masa lalu, tak beda dengan seniman lain, menggauli panggung teater, bahkan bersensansi tinggi sebagai aktor yang berimajinasi liar, panggung ia kencingi, mengumbar kemaluan untuk dinikmati sebagai pertunjukan. Hanya saja bagi penonton berkonotasi pornoisme, maka dianggap Pelecehan Teater. Namun bagi mereka yang memiliki jangkauan estetika mendalam, maka Joko Pranoto sedang mengekspresikan bagaimana dunia panggung tidak akan pernah hidup, apabila para pelaku teater tidak memiliki daya tempur untuk melakukan terobosan baru, maka dunia teater hanya berjoget di satu tempat, asik beronani sambil berkacamata kuda. sehingga itulah salah satu bentuk pemberontakan Joko Pranoto.

Joko Pranoto bersikap bahwa hidup perlu dihidupi, lalu ia pun malang melintang di dunia pekerjaan sampai puncak karirnya menjadi manager yang dipercaya oleh perusahaan ternama, dan sampai pensiun tidak berarti gagap, hidup kehilangan arah, justru sudah lama pula ia merintis usaha, memiliki lahan kelapa sawit cukup luas, juga memiliki usaha travel umroh dan haji ke tanah suci, serta toko perlengkapan kebutuhan berumroh dan berhaji.

Dan di saat nilai dolar terbang tinggi, justru Joko Pranoto tetap dengan kemauan kuatnya, mengeluarkan uang dari kocek sendiri, lewat dua buku kumpulan puisi karyanya: “Yang Kutitipkan Kepada Langit’ dan “Negeri Retak” melaksanakan gelar seni budaya Indonesia, di bawah bendera Pagar Betis Nusantara, terlahir nama MORSA EVENT 2026, di Purawisata Amphitheater Yogyakarta, Selasa, 23 Juni 2026, pukul 19.30 – selesai.

Dan, ada kegilaan, dan sekaligus menjadikan Tonggak Sejarah dalam penghormatan kepada pembaca puisi karyanya, Para pembaca puisi seperti: Sutardji Calzoum Bachri, Clara Sinta Rendra, Jose Rizal Manua, Alvin Bin Adam, Khalonk Rahmansyah, Anto Narasoma juga pemonolog Joind Bayuwinanda dan Eb Magor, mereka hanya tampil berapa menit saja, namun dalam jaminan Joko Pranoto, naik pesawat Jakarta – Yogya, menginap di hotel, makan minum, termasuk honor yang cukup lumayan nilainya.

Nah, di situlah aku bisa menyimpulkan bahwa Joko Pranoto, meninggalkan dunia teater dan puisi, untuk mencari rejeki lebih menjadi pengusaha, untuk kembali peduli dan tetap menghidupkan dunia seni di dalam jiwanya, sekaligus berbagi rasa kepada para pelaku seni, meski kondisi ekonomi di negeri ini, tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Gila!
Joko Pranoto,
Memang gila!

Benar
langkahmu,
Joko Pranoto:
—hidup harus
dihidupi

Di pagi yang sederhana,
ketika ayam kampung masih
berunding dengan matahari,
kala embun masih menggigil
di ujung daun singkong,
saat jalan tanah di Singasari, Jonggol, Bogor, masih lebih
akrab dengan sandal jepit daripada ban mobil mewah, datanglah seorang tamu.
Bukan pejabat negara.
Bukan calon kepala daerah.
Bukan komisaris BUMN.
Bukan pula sang dukun yang menawarkan cara kaya instan.

Ia hanya
seorang lelaki
yang pernah bertengkar
dengan panggung,
berdebat dengan puisi,
dan berdamai dengan
kehidupan.
Namanya, Joko Pranoto

Ia terbang
dari Palembang ke Jakarta. Pulang pergi dalam sehari.
Hanya untuk bersilaturahim
Hanya untuk mengetuk
pintu gubuk.
Hanya untuk
menghidupkan kembali
percakapan yang mungkin
sudah lama tertidur.

Orang waras
akan bertanya:
“Mengapa?”

Karena
zaman sekarang,
orang lebih rela terbang
ribuan kilometer demi rapat yang tak menghasilkan
keputusan, daripada
menempuh perjalanan jauh demi persahabatan.

Orang lebih mudah
mengirim emoji tangan berjabat
daripada benar-benar menjabat tangan.
Orang lebih rajin mengucapkan “saudara”
di atas panggung, daripada menjadi
saudara di kehidupan nyata.

Namun Joko datang.
Kadang-kadang,
kehadiran seseorang
lebih berharga daripada
seribu pidato basa basi.

Aku mengenal
banyak manusia.
Ada yang cerdas.
Ada yang kaya.
Ada yang terkenal.
Ada yang pandai berbicara.
Ada yang pandai berjanji.
Ada yang pandai hilang
setelah berjanji.

Tetapi tidak semua
memiliki energi hidup.
Energi hidup bukan soal otot.
Bukan soal usia.
Bukan soal gelar.
Energi hidup adalah
keberanian bangun kembali
setelah dihantam kenyataan.

BACA  MURI dan Setengah Abad Pentas Teater Keliling

Energi hidup adalah
kemampuan tersenyum
meski hidup tak selalu
murah hati.

Energi hidup adalah
kesanggupan berkata:
“Aku belum selesai.”

Dan, Joko Pranoto,
adalah seorang manusia yang memiliki energi itu.
Keras seperti baja.
Tetapi bukan baja yang dipakai untuk memukul.
Melainkan baja yang dipakai untuk menopang jembatan.
Jembatan antara mimpi
dan kenyataan.

Di masa muda,
ia menggauli dunia teater.
Menghirup bau cat panggung.
Menghafal dialog.
Mengolah emosi.
Menari bersama imajinasi.
Ia pernah menjadi aktor.
Pernah menjadi penyair.
Pernah menjadi
pemberontak.

Dan,
pemberontak sejati
bukan gemar merusak.
Pemberontak sejati
adalah mereka yang
menolak kebekuan.
Yang menolak kemapanan
yang malas berpikir.
Yang menolak kenyamanan
yang bikin manusia tertidur.

Kadang-kadang,
sejarah bergerak karena
ada orang-orang yang
dianggap gila.

Dunia seni memang unik.
Di dalamnya ada keindahan.
Ada kegelisahan.
Ada pencarian.
Ada pertanyaan.
Dan sering kali,
lebih banyak pertanyaan
daripada jawaban.

Seni bukan kantor pajak.
Seni tak selalu menyediakan
angka pasti.
Seni mengajak manusia
berpikir, merenung,
menggugat dirinya sendiri.
Tapi seni juga banyak menghadapi
tantangan.

Kadang
para pelakunya
terlalu lama bercermin.
Terlalu lama mengagumi
dirinya sendiri.
Terlalu lama memuja
lingkarannya sendiri, sehingga lupa
bahwa dunia terus bergerak.
Bahwa rakyat membutuhkan karya,
bukan sekadar diskusi tanpa akhir.
Bahwa kreativitas harus
melahirkan tindakan.
Bahwa imajinasi harus
menemukan rumahnya
di dalam realisasi.

Joko Pranoto
memilih jalan berbeda.
Ia meninggalkan panggung.
Tetapi tidak meninggalkan
jiwa seninya.
Ia menjauh dari teater.
Tetapi tidak menjauh
dari kreativitas.

Joko Pranoto
meninggalkan puisi.
Tetapi tidak meninggalkan
perenungan.
Karena sesungguhnya,
manusia boleh pindah profesi,
namun tidak harus
kehilangan ruh.

Ada yang menganggap
menjadi pengusaha adalah
pengkhianatan.

Lucu sekali !
Seolah-olah
kemiskinan adalah
sertifikat kesucian.
Seolah kerepotan ekonomi
adalah bukti kecintaan
terhadap seni.
Padahal tidak.
Perut tetap membutuhkan nasi.
Anak tetap membutuhkan
pendidikan.
Orang tua tetap
membutuhkan biaya berobat.
Rumah tetap membutuhkan atap.
Dan listrik tidak bisa dibayar
dengan tepuk tangan
penonton.

Di negeri ini,
kadang-kadang kita
terlalu romantis.
Kita memuja penderitaan.
Kita menganggap kesusahan
sebagai prestasi.
Kita lebih mudah memuji orang
yang sengsara daripada
menghargai orang
yang berhasil.

Padahal
keberhasilan yang jujur
juga merupakan karya.
Juga merupakan perjuangan.
Juga merupakan ibadah.

Agama
mengajarkan ikhtiar.
Negara membutuhkan
produktivitas.

Pendidikan
membutuhkan
keteladanan.

Filsafat
mengajarkan
keseimbangan.
Dan hidup mengajarkan:
angan-angan harus berjalan
bersama tindakan.
Doa harus berjalan
bersama usaha.
Harapan harus berjalan
bersama kerja keras.

Maka
Joko memasuki dunia kerja. Melewati banyak tantangan.
Menjadi profesional.
Menjadi manajer.
Dipercaya perusahaan.
Menyelesaikan tanggung jawab.
Dan ketika banyak orang pensiun
lalu kehilangan arah,
ia justru telah menyiapkan
pelayaran baru.

Lahan sawit.
Usaha perjalanan umrah dan haji.
Toko perlengkapan ibadah.
Berbagai usaha.
Berbagai ikhtiar.
Berbagai jalan halal.
Karena hidup pantang berhenti
hanya oleh usia bertambah.

Bukankah
agama mengajarkan
bahwa tangan di atas
lebih baik daripada
tangan di bawah?

Bukankah
bangsa membutuhkan
lebih banyak pencipta
lapangan kerja daripada
pencipta keluhan?

Bukankah
negeri ini memerlukan
manusia-manusia produktif
yang mampu memberi
manfaat?

Di saat banyak orang
sibuk mengutuk keadaan,
Joko Pranoto sibuk bekerja.
Di saat banyak orang sibuk
menyalahkan nasib,
Joko sibuk membangun
kemungkinan.

Di saat banyak orang
sibuk menghitung hambatan,
Joko Pranoto sibuk
mencari jalan.

Kemudian,
tiba tahun 2026.
Tahun yang tidak mudah.
Nilai dolar melonjak.
Harga kebutuhan naik.
Rakyat mengeluh.
Pedagang mengeluh.
Pegawai mengeluh.
Pengusaha mengeluh.
Mahasiswa mengeluh,
kucing kampung pun
ikut mengeluh karena
harga ikan asin naik.

Negeri ini
memang sedang
menghadapi tantangan.
Namun di tengah tantangan itu,
Joko Pranoto melakukan
sesuatu yang aneh.
Sesuatu yang tidak masuk akal.
Sesuatu yang membuat orang mengernyitkan dahi.

Ia menerbitkan buku puisi.
Ia mendukung pertunjukan budaya.
Ia membangun ruang pertemuan.
Ia menghidupkan kembali percakapan seni.
Bukan karena mencari keuntungan.
Bukan karena mengejar popularitas.
Melainkan karena cinta.

Sebab ada cinta
yang tidak bisa dihitung
dengan kalkulator.

Ada cinta
yang tidak bisa dimasukkan
ke laporan keuangan.

Ada cinta
yang hanya bisa dipahami
oleh mereka yang pernah
kehilangan.

Lahir dua buku:
“Yang Kutitipkan Kepada Langit”
dan
“Negeri Retak”.
Judul yang terdengar seperti doa.
Dan juga seperti peringatan.
Karena memang negeri ini
kadang sedang retak.

Retak oleh
ketimpangan,
kebencian,
keserakahan,
korupsi,
Retak oleh
lupa diri.

Namun
negeri yang retak
tidak harus hancur.
Selama masih ada orang-orang
yang mau merekatkannya.
Dengan karya,
pendidikan,
keteladanan,
kepedulian.

BACA  Menjadi Wartawan Profesional

Di bawah bendera
Pagar Betis Nusantara,
lahirlah MORSA Event 2026.
Bukan sekadar acara.
Bukan sekadar panggung, melainkan pernyataan bahwa seni masih hidup.
Bahwa budaya masih bernapas. Bahwa puisi belum mati.
Bahwa manusia belum
sepenuhnya menjadi mesin.

Dan, di situlah
kegilaan itu mencapai puncaknya.
Para pembaca puisi.
Para pelaku seni.
Para pemonolog.
Diundang.
Dihargai.
Difasilitasi.
Diperlakukan dengan hormat.

Mungkin
ada yang bertanya:
“Mengapa harus begitu?”
Karena penghormatan
adalah pupuk bagi kebudayaan.
Karena apresiasi
adalah vitamin bagi kreativitas.
Karena bangsa yang besar
tidak hanya membangun jalan tol.
Tapi juga membangun
jalan jiwa.

Kita bisa membangun
gedung setinggi langit.
Tetapi bila kehilangan budaya,
gedung itu hanya tumpukan beton.
Kita bisa memperbanyak teknologi.
Tetapi bila kehilangan nurani,
maka teknologi hanya
mempercepat kekeliruan.

Pendidikan
tidak hanya berada
di ruang kelas.
Pendidikan juga hidup
di panggung.
Di buku.
Di puisi.
Di teater.
Di percakapan.
Di keteladanan.

Dan Joko Pranoto
sedang memberi pelajaran:
bahwa sukses ekonomi
tidak harus membunuh
kepedulian budaya.

Inilah
yang sering dilupakan.
Orang mengira ada dua pilihan:
menjadi idealis atau realistis.
Padahal yang dibutuhkan
adalah keduanya.

Idealisme
tanpa tindakan
menjadi khayalan.
Realisme tanpa nilai
menjadi kekeringan.
Bangsa ini
membutuhkan manusia
yang mampu bermimpi
dan sekaligus bekerja.
Mampu berdoa
dan sekaligus berikhtiar.
Mampu mencintai seni
dan sekaligus
menghargai
ekonomi.

Karena
sesungguhnya,
uang bukan musuh
kebudayaan.
Keserakahanlah
musuh kebudayaan.
Jabatan bukan
musuh rakyat.
Penyalahgunaan jabatan
musuh rakyat.

Agama bukan
musuh kemajuan.
Fanatisme butalah
musuh kemajuan.

Maka ketika
aku melihat perjalanan
Joko Pranoto, aku tak sedang melihat seorang pengusaha.
Aku melihat sebuah pelajaran bahwa hidup harus bergerak.
Bahwa manusia harus
berkembang.
Bahwa keberhasilan
harus dibagikan !

Hari ini,
banyak orang
mengejar kekayaan.
Tidak salah.
Tetapi setelah kaya,
apa yang dilakukan?
Itulah pertanyaan
sebenarnya.

Sebab kuburan
tidak pernah bertanya
berapa saldo rekening.
Kuburan tidak pernah bertanya
berapa luas kebun sawit.
Kuburan tidak pernah bertanya
berapa banyak kendaraan.
Kuburan cuma jadi pengingat:
apa manfaat yang pernah
kita tinggalkan?

Dan, mungkin
itulah sebabnya Joko Pranoto
kembali menyapa dunia seni.
Bukan untuk bernostalgia.
Bukan untuk pamer.
Tetapi untuk memberi napas.
Memberi ruang.
Memberi kesempatan.
Memberi penghormatan.

Di negeri
yang kerap gaduh oleh politik,
ia memilih membangun budaya.
Di negeri yang sering ribut oleh
perbedaan, ia memilih untuk
mempertemukan manusia.
Di negeri yang sering
sibuk menyalahkan,
ia memilih bekerja.

Bukankah itu
bentuk patriotisme juga? Patriotisme tidak selalu mengangkat senjata.
Patriotisme bisa berupa
membayar pekerja
dengan layak.

Patriotisme
bisa berupa membantu
seniman berkarya.

Patriotisme bisa berupa
menciptakan harapan.
Dan, aku tersenyum.
Karena semakin kupikirkan,
semakin jelas kesimpulannya.

Ya, Joko Pranoto
engkau memang “gila”.
Tetapi bukan yang merusak.
Melainkan gila yang membangun.
Gila yang menyalakan lampu.
Gila yang menghidupkan harapan.
Gila yang mengingatkan, manusia
tidak boleh hanya hidup
untuk dirinya sendiri.

Kalau kegilaan
seperti ini menular, barangkali
negeri ini akan lebih baik.
Kalau kegilaan seperti ini menyebar,
barangkali budaya akan lebih hidup.
Kalau kegilaan seperti ini berkembang,
barangkali pendidikan akan
lebih bermakna.

Kalau kegilaan
seperti ini bertambah,
barangkali kemanusiaan
akan lebih hangat.

Maka wahai
sahabat-sahabat sebangsa,
jangan takut bermimpi.
Tetapi jangan berhenti pada mimpi.
Jangan takut bekerja.
Tetapi jangan lupa berbagi.
Jangan takut sukses.
Tetapi jangan kehilangan hati.
Jangan takut kaya.
Tetapi jangan
miskin nurani.

Karena pada akhirnya,
hidup bukan tentang apa
yang kita kumpulkan.
Melainkan apa yang kita hidupkan.
Bukan tentang apa yang kita miliki.
Melainkan apa yang kita berikan.
Bukan tentang berapa lama kita hidup.
Melainkan seberapa jauh
manfaat kita mengalir.

Dan, ketika
sejarah kecil bangsa ini ditulis,
mungkin akan ada satu catatan
sederhana: pernah ada lelaki
dari Palembang,
yang belajar dari panggung,
bertarung di dunia kerja,
menemukan keberhasilan dalam usaha,
lalu kembali mengetuk pintu kebudayaan,
membawa cinta,
membawa kepedulian,
membawa penghormatan.

Maka aku
mengangkat secangkir kopi desa.
Kepada
persahabatan,
kerja keras,
kebudayaan,
Kepada
Indonesia.

Dan, kepada
seorang manusia
yang memilih menjadikan
keberhasilannya sebagai
jembatan bagi orang lain.

Ah, gila? Ya gila betul. Sebab, dalam konteks kreativitas seni, Joko Pranoto memang gila !

Tetapi di tengah zaman
yang sering kehilangan arah,
justru kita membutuhkan
lebih banyak orang gila
seperti Joko Pranoto. (*)

Bekasi Timur,
Sabtu, 13 Juni 2026
11.25