Palembang, Sumatera Selatan | Pencanangnews.id — 03 Agustus 2026 — Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama, Kita Muda Nahdliyin (KMN) Sumatera Selatan menggelar diskusi kepemudaan bertajuk “Merawat Tradisi dan Menumbuhkan Inovasi di Ruang Digital” di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan pemuda Nahdliyin, santri, mahasiswa, akademisi, serta pegiat media digital yang memiliki perhatian terhadap penguatan peran generasi muda NU dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi.

Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi gagasan mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah derasnya arus transformasi digital. Hal ini dinilai karena saat ini ruang digital telah menjadi arena strategis dalam membangun peradaban, menyebarkan dakwah yang moderat, memperkuat literasi masyarakat, serta memperluas jangkauan gerakan Nahdlatul Ulama.
Dalam sambutannya, Koordinator Wilayah Kita Muda Nahdliyin (KMN) Sumatera Selatan, Rohman, menyampaikan bahwa generasi muda Nahdliyin memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan tradisi keilmuan pesantren tetap hidup dan berkembang, tidak hanya di lingkungan pesantren, tetapi juga di ruang-ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Tradisi dan inovasi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya harus berjalan beriringan. Nilai-nilai pesantren yang diwariskan para ulama perlu diterjemahkan dalam bahasa digital agar tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan generasi masa kini. KMN Sumatera Selatan ingin menjadi ruang kolaborasi bagi anak-anak muda Nahdliyin untuk terus belajar, berdiskusi, dan berinovasi. Kami meyakini bahwa menjaga tradisi tidak berarti menolak perubahan. Justru dengan berpijak pada tradisi keilmuan pesantren, kita dapat menghadirkan inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Rohman.
Ia menambahkan bahwa menjelang Muktamar Ke-35 NU, kepemimpinan PBNU ke depan diharapkan mampu memperkuat transformasi digital organisasi, mendorong kaderisasi yang adaptif, serta menjadikan teknologi sebagai sarana memperluas dakwah, meningkatkan kualitas pelayanan umat, dan memperkuat peran NU dalam menjawab tantangan global.

Dalam forum tersebut, KMN Sumatera Selatan juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya kepemimpinan Nahdlatul Ulama yang mampu menjawab tantangan transformasi digital. Menurut KMN Sumatera Selatan, NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama dan pengalaman dalam tradisi pesantren, tetapi juga memahami perkembangan teknologi informasi, media sosial, dan ekosistem digital yang terus berkembang.
Atas dasar itu, KMN Sumatera Selatan mendorong K.H. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) sebagai salah satu figur yang dinilai mampu membawa Nahdlatul Ulama memasuki era transformasi digital. Selain dikenal sebagai ulama dan pengasuh pesantren, Gus Yusuf juga dinilai aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah, edukasi, serta membangun komunikasi dengan generasi muda.
KMN Sumatera Selatan berpandangan bahwa transformasi digital yang dibutuhkan NU tidak hanya sebatas digitalisasi administrasi dan tata kelola organisasi, tetapi juga mencakup transformasi budaya (digital culture) di lingkungan jam’iyah. Pemanfaatan teknologi digital diharapkan mampu memperkuat kaderisasi, meningkatkan pelayanan organisasi, memperluas dakwah, membangun kolaborasi lintas generasi, serta menghadirkan NU yang semakin adaptif tanpa kehilangan jati diri dan tradisi keilmuan pesantren.
Pada sesi pemaparan materi, Nasrullah, S.Sos. menegaskan bahwa transformasi digital harus dipandang sebagai ikhtiar untuk memperkuat dakwah dan pelayanan umat, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.
“Ruang digital hari ini telah menjadi ruang publik baru. Jika NU ingin tetap menjadi rujukan masyarakat, maka kader-kader muda harus hadir dengan konten yang mencerahkan, memperkuat literasi digital, serta mampu menangkal penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan paham-paham yang bertentangan dengan nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Teknologi harus menjadi instrumen kemaslahatan, bukan sebaliknya,” jelas Nasrullah.
Sementara itu, Muhammad Irawan menilai bahwa penguasaan teknologi merupakan kebutuhan mendesak bagi generasi muda Nahdliyin agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan.
“Generasi muda NU tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus mampu menjadi inovator, kreator, sekaligus produsen pengetahuan di ruang digital. Pesantren, kampus, komunitas kreatif, dan organisasi kepemudaan harus membangun kolaborasi untuk melahirkan ekosistem digital yang produktif, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai ke-NU-an,” ujarnya.
Menurut para narasumber, hadirnya era Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Kondisi tersebut menuntut organisasi keagamaan, termasuk Nahdlatul Ulama, untuk menyiapkan strategi yang mampu menjawab perubahan zaman dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
“AI bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi harus dipahami, diarahkan, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Nahdlatul Ulama memiliki modal keilmuan, tradisi intelektual, dan sumber daya manusia yang besar untuk menjadi pelopor pemanfaatan teknologi secara beretika dan berkeadaban,” ungkap salah seorang narasumber.
Dalam kesempatan tersebut, KMN Sumatera Selatan berharap kepemimpinan PBNU ke depan mampu menghadirkan kebijakan yang memperkuat ekosistem digital organisasi, mendorong lahirnya inovasi di bidang pendidikan pesantren, memperluas literasi digital warga Nahdliyin, serta mengembangkan pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai instrumen dakwah, pendidikan, riset, pelayanan umat, dan penguatan tata kelola organisasi.
Diskusi juga menghasilkan sejumlah rekomendasi, antara lain mendorong peningkatan kapasitas digital kader muda Nahdliyin, memperbanyak produksi konten dakwah yang edukatif dan kreatif, memperkuat kolaborasi antara pesantren, kampus, komunitas kreatif, dan media, serta menjadikan ruang digital sebagai sarana memperluas gerakan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, KMN Sumatera Selatan mengajak seluruh pemuda Nahdliyin, santri, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat luas untuk bersama-sama merawat tradisi keilmuan pesantren sekaligus menumbuhkan inovasi di ruang digital. Dengan semangat kolaborasi, diharapkan Nahdlatul Ulama mampu menjadi organisasi yang semakin modern, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta tetap kokoh menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam menghadapi era transformasi digital dan kecerdasan buatan.






