Barantin, OJK, dan Pemprov Sumsel Perkuat Akselerasi Ekspor Komoditas Turunan Kelapa dan Lada Hitam ke Pasar Global

Berita29 Dilihat

Palembang|Pencanangnews.com- Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Karantina Sumatera Selatan (Karantina Sumsel) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus memperkuat sinergi dalam mendorong akselerasi ekspor komoditas unggulan daerah, khususnya produk turunan kelapa dan lada hitam, menuju pasar global. Hal tersebut disampaikan dalam sambutan Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, yang diwakili oleh Kepala Balai Besar Karantina Sumatera Utara, N. Prayatno Ginting dalam acara pelepasa ekspor produk turunan kelapa dan lada hitam, Selasa (28/4).

“Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam membangun ekosistem ekonomi daerah yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor jasa keuangan, dan dukungan teknis karantina. kspor produk turunan kelapa merupakan langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah komoditas nasional,” jelasnya.

Upaya tersebut merupakan bagian dari implementasi program pengembangan ekonomi daerah yang terintegrasi, dengan fokus pada penguatan hilirisasi komoditas unggulan serta peningkatan kapasitas pelaku usaha, khususnya generasi muda.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah komoditas unggulan berhasil diekspor ke pasar internasional melalui Pelabuhan Boom Baru Palembang, diantaranya coconut charcoal sebanyak 46 ton tujuan Tiongkok, coconut shell chips sebanyak 50 ton tujuan Tiongkok, serta kerupuk mentah sebanyak 21 ton dan lada hitam 500 kilogram tujuan Taiwan, dengan total nilai ekspor mencapai sekitar Rp1,6 miliar.

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni pelepasan ekspor, tetapi merupakan wujud nyata komitmen bersama dalam membangun ekosistem kewirausahaan muda yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing global.

BACA  Gedung Politeknik Pariwisata Palembang Terbakar, Polisi Masih Menyelidiki Penyebabnya

“Program 100.000 Sultan Muda menjadi langkah strategis dalam mencetak generasi muda yang produktif, kreatif, dan mampu menembus pasar internasional, sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah,” tegas Herman.

Menurutnya, kinerja perdagangan Sumatera Selatan juga menunjukkan tren positif, dengan nilai ekspor tahun 2025 mencapai 6,72 miliar USD dan surplus neraca perdagangan sebesar 5,24 miliar USD. Namun demikian, ia menekankan pentingnya hilirisasi dan diversifikasi produk agar tidak hanya bergantung pada komoditas primer.

Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi dan inklusi keuangan sebagai fondasi dalam mendorong pelaku usaha agar mampu berkembang dan menembus pasar global.

Melalui sinergi industri jasa keuangan, pelaku usaha didorong menjadi lebih bankable, adaptif, dan berkelanjutan, didukung akses pembiayaan, pendampingan usaha, serta integrasi dengan sektor riil yang lebih luas.

Sebagai informasi, secara nasional produksi kelapa mencapai 2,86 juta ton, sementara di Sumatera Selatan sekitar 61,7 ribu ton yang sebagian besar masih berupa bahan mentah. Oleh karena itu, transformasi menuju produk olahan menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing di pasar global.

Berkaitan dengan hal ini, Kepala Karantina Sumatera Selatan, Sri Endah Ekandari menjelaskan bahwa Karantina memiliki peran penting dalam memastikan setiap komoditas memenuhi standar kesehatan, mutu, dan ketertelusuran sebagai syarat utama akses pasar internasional, sekaligus menjaga kepercayaan negara tujuan terhadap produk Indonesia.

“Karantina menjadi bagian strategis dalam menjaga kualitas ekspor dan melindungi sumber daya hayati dari ancaman hama dan penyakit,” tegasnya.

BACA  Lembaga Pendidikan Kursus Insan Mulia Barokah Palembang Gelar Berbagai Lomba

Endah menambahkan, melalui sistem pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik, hingga penerbitan sertifikat kesehatan, Karantina Sumsel memastikan komoditas ekspor aman, memenuhi standar internasional, dan memiliki daya saing tinggi.

Berdasarkan Laporan Dampak Ekonomi Karantina Tahun 2025 yang disusun bersama BPS Provinsi Sumatera Selatan, peran karantina terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah. Total ekspor komoditas yang melalui sertifikasi karantina tercatat mencapai Rp9,10 triliun atau sekitar 8,38% dari total ekspor luar negeri dalam struktur PDRB.

Kontribusi tersebut juga memberikan dampak langsung terhadap PDRB sebesar 1,26%, yang menunjukkan bahwa karantina tidak hanya berfungsi sebagai pengawasan, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam menjaga nilai ekonomi komoditas dan akses pasar global.

Secara sektoral, komoditas tumbuhan menjadi pilar utama ekspor dengan kontribusi mencapai 99,5%, sementara sektor perikanan dan peternakan masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan, khususnya dalam memperluas pasar ekspor internasional.

Dengan dukungan infrastruktur logistik seperti Pelabuhan Boom Baru dan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, serta penguatan sistem sertifikasi dan digitalisasi layanan, Sumatera Selatan memiliki peluang besar untuk menjadi hub ekspor regional berbasis komoditas unggulan.

“Melalui sinergi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, OJK, dan Karantina, diharapkan ekspor komoditas unggulan daerah terus meningkat baik dari sisi volume maupun nilai tambah, serta mampu memperkuat posisi Sumatera Selatan dalam rantai pasok global dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tutup Endah. (ndre)