Pesilat Palembang Harus Taklukkan Diri Sendiri

Berita706 Dilihat

DI ruang cukup luas, ada beberapa pesilat yang tengah latihan. Mereka begitu serius menampilkan beberapa gerakan menarik dan mematikan.

Meski demikian, latihan itu bukan untuk diarahkan bagi pertikaian kelompok atau berkelahi perorangan, tapi untuk memperkuat fisik dan jiwa pesilat.

Menurut Raden Arifin bin Agustjik, ia melatih anak-anak agar mereka mampu menjadi pribadi yang kuat lahir batin. “Saya gembira sekali apabila ada anak-anak yang berminat latihan, untuk mempelajari tradisi pencak silat asli Palembang,” ujar Raden Arifin saat diwawancarai awak media ini, di Jalan Durian 4 Nomor 2148 Kelurahan Lebong Gajah Kecamatan Sematang Borang Palembang, Rabu (3/1/2023).

Dulu, katanya, pencak silat ini sangat dikenal sebagai olahraga beladiri kuntaw Palembang. Dari gerakan patah-patah dan “kembang-kembang” strategi serangan, memang sangat menarik untuk dicermati.

“Kalau sedang latihan, anak-anak yang baru ikut latihan, tidak serta-merta diajarkan pukulan dan tendangan,” ujar Raden Arifin yang biasa disapa Fendi itu tersenyum.

Sebagai pelatih utama, ia mengajarkan kekuatan dan ketahanan fisik mereka. “Ini penting dilakukan. Tujuannya untuk bertahan dan cepat menerima strategi serangan yang diajarkan,” kata Fendi.

BACA 

Menurut dia, saat ini pencak silat Palembang sudah jarang diajarkan ke generasi muda Palembang. Padahal, kata Fendi, di bawah tahun 1970-an, di tiap kampung terdapat beragam bentuk pencak silat Palembang yang diajarkan.

“Karena itu saya sejak kecil sudah mengenal kuntaw Palembang. Karena saya menyenangi aktivitas seni budaya daerah ini, maka saya berusaha menguasai tiap gerakan serta strategi bertahan dan menyerang,” ujar Fendi.

Makanya hingga saat ini ia tetap mempertahankan corak kuntaw yang ia kuasai. Dulu, kata Fendi, banyak guru yang ia ikuti. Dari merekalah ia belajar silat. Misalnya dengan guru Mang Diding dan Mang Topa. “Kedua guru ini sangat detail jika mengajari kita berlatih,” katanya.

Makanya, ketika ia memberi pelatihan kepada murid-muridnya, Fendi selalu mengajarkan secara mendalam dari setiap gerakan, tangkisan, dan tendangan.

BACA  Ketum POSE RI Desri Nago Menyebut Oknum Wartawan Berinisial RNI Merusak Marwah Pers dalam Tugasnya, Ini Alasannya!

Fendi juga selalu mencermati murid-muridnya yang berbakat. Dengan murid-murid inilah kelak mampu melestarikan seni budaya (kuntaw) asli _*wong Plembang*_.

Apakah ada pertarungan kuntaw dengan senjata tajam? Fendi mengatakan ada. “Saya selalu mengajarkan teknik permainan pedang kepada mereka yang sudah latihan lebih dari enam bulan,” kata Fendi.

Dalam pencak silat Palembang, katanya, akan ada kenaikan tingkat saat telah berlatih selama enam bulan. “Dari sabuk merah ke sabuk kuning. Kemudian seterusnya hijau, biru, dan ungu biru. Kemudian naik lagi ke sabuk merah lis putih I, lis putih II, dan lis putih III. Selanjutnya mereka berhak menjadi pelatih,” urai Fendi.

Jadi, kuntaw Palembang ini dilatih sesuai kebutuhan tradisi, dan bukan untuk bertarung atau mencari musuh. Pokoknya, kata Fendi, sebagai pesilat harus mampu tampil sebagai manusia bijak dan mampu menaklukkan diri sendiri. “Jadi, musuh terbesar bagi kita itu adalah diri sendiri,” ujar Fendi menutup pembicaraan. (*)