Sekolah Itu Mahal !, Menunggu Janji Sekolah Gratis

Berita831 Dilihat

PALEMBANG|PencanangNews.com Untuk memberikan edukasi agar selalu peka dengan keadaan sosial masyarakat baik kepada kader maupun masyarakat umum, salah satu kegiatan yang dilombakan dalam rangka Semarak HUT ke 50 PDIP lomba fotografi dengan tema “Kehidupan Sosial Di Sumatera Selatan” dengan isu kesehatan, lingkungan, pendidikan dan infrastruktur.

Lomba ini dimulai pada tanggal 1 sampai dengan 7 Februari 2023 dimana pada Sabtu (11/2) semua foto yang dikirimkan peserta akan dipajang pada acara puncak HUT PDI-Perjuangan ke 50 di pelataran Benteng Kuto Besak. Sekaligus mengumumkan hasil penilaian juri dan layak menjadi pemenang.

Dan dari hasil penilaian foto dengan judul “Sekolah Itu Mahal” ditetapkan sebagai pemenang utama lomba fotografi Semarak HUT PDI-Perjuangan ke 50. Sekilas nampak tidak ada yang istimewa dalam foto itu, dimana menampilkan sosok dua orang anak sedang asyik membaca buku yang tampak kumal ditengah hamparan sampah dan dipayungi terpal yang cukup usang.

Menurut salah seorang juri lomba Syafrul yang juga berprofesi sebagai jurnalis, foto dengan judul “Sekolah Itu Mahal” merupakan foto dengan paket lengkap bagaimana gambaran sosial masyarakat bawah, baik itu lingkungan, kesehatan maupun pendidikan. Pesan moral yang digambarkan dalam foto tersebut, sangat jelas bagaimana antusias dan semangat masyarakat bawah yang diwakili kedua bocah tersebut dalam menuntut ilmu.

BACA  Sengketa PT. SKB dan PT GPU, Garda Prabowo Sumsel Gelar Aksi di PN Lubuklinggau

Keduanya tampak sumingrah membaca buku ditengah baunya sampah demi sedikit ilmu pengetahuan, yang tidak mereka dapatkan ditempat formal. Sudah bukan rahasia umum untuk mendapatkan pendidikan secara formal bukan perkara yang mudah bagi masyarakat dengan ekonomi rendah. Salah satu faktor yang menyumbang banyaknya anak usia sekolah yang terpaksa putus sekolah adalah beratnya beban biaya pendidikan yang harus mereka tanggung. Jadi kekuatan pesan itulah yang kami sepakati menjadikan foto “Sekolah Itu Mahal” lebih unggul dari foto-foto yang lain, foto itu cukup mewakili gambaran realita dunia pendidikan di Sumatera Selatan,”ungkap Syafrul.

Hal senada juga diungkapkan ketua panitia kegiatan Andreas Okdi Priantoro atau akrab disapa AOP, aktivis yang cukup intens menanggapi isu-isu tentang keadaan masyarakat bawah. Ikut tergoda untuk berkomentar terkait keresahan yang digambarkan dalam foto itu.

Menurut sudut pandang saya sebagai kader partai, pesan yang disampaikan pada foto tersebut mengingatkan kami sebagai kader partainya wong cilik agar selalu konsisten membenahi persoalan-persoalan yang terjadi pada masyarakat bawah. PDI Perjuangan adalah tempat masyarakat kecil berkeluh kesah dalam menghadapi permasalahan hidup, “ujarnya.

Foto tersebut cukup mewakili identitas PDI Perjuangan sebagai partainya wong cilik, tetap konsisten dan peduli memahami keinginan wong cilik. Dan terus berkomitmen memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

BACA  Satgas Yonif 143/TWEJ Masuk Dapur Warga Perbatasan Papua

Secara lugas AOP mengatakan, seperti inilah potret dunia pendidikan di SumSel, dimana masih banyak persoalan yang perlu kita benahi bersama. Masih sangat jauh dari program unggulan yang digaungkan Herman Deru kepada masyarakat ” Program Gratis Sekolah” ketika menjadi kandidat pilgub 2018 lalu. Hingga hampir penghujung masa jabatannya realisasi gratis sekolah masih sebatas program tanpa implementasi yang jelas.

Padahal apa susahnya tinggal meneruskan program sekolah gratis gubernur sebelumnya dan membenahi kekurangan yang terjadi pada waktu pelaksanaan program,”imbuhnya.Besarnya APBD Sumatera Selatan saya rasa cukup mampu untuk membackup program “Gratis Sekolah” jika dikelola dengan benar. Atau mungkin HD agak alergi dan gengsi untuk meneruskan program lawan politiknya pada pilkada 2013 dimana HD harus mengakui keunggulan Alex Noerdin dengan program sekolah gratis yang telah berjalan selama 5 tahun Alex Noerdin menjadi gubernur tahun 2008.

Sebagaimana kita ketahui
Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang cukup kaya.namun sayangnya kekayaan itu belum berpihak terhadap dunia pendidikan, bak kata pepatah inilah yang dinamakan tikus mati dilumbung padi,” tegas AOP. (Rin)