Berita32 Dilihat

PELUKIS LULLY DAN IDE KREATIF PADA SENI VISUALNYA

Oleh Anto Narasoma

*SATU corak lukisan tak sekadar membentuk gambaran sesuatu di atas kanvas, tapi tampilannya melahirkan beragam persepsi dari makna yang terdapat secara esensi di dalam lukisan tersebut*.
——–

Lukisan dalam berbagai bentuk gambaran sesuatu tercipta dari pengelolaan ide-ide yang kreatif.

Sebab, dari ide-ide yang muncul, biasanya akan memuat berbagai patokan unsur sesuatu yang hendak disampaikan pelukis.

Seperti dikemukakan pelukis terkenal dengan ekspresi garis tunggalnya –Henri Matisse, tiap garis yang digurat ke kanvas,
terdapat ide-ide kreatif yang disampaikan si pelukis tersebut.

Meski terkadang harus menguras pikiran dan strategi yang digagas pelukis dalam menelaah lukisan tersebut, kekayaan estetikanya memang harus dipahami para penikmatnya.

Karena itu, berapa nilai harga bagi satu lukisan karya pelukis ternama, tak dapat ditakar dengan nilai angka materi yang ditetapkan.

Sebab, secara esensi, inilah mahalnya harga satu lukisan, karena kandungan makna yang penuh persepsi secara estetika.

Terkait masalah itu, pelukis wanita asal Jogjakarta –Lully Tutus Pinandita, memiliki prinsip dasar yang kuat ketika ia berkarya.

Jika dipahami secara esensi, setiap lukisannya menghadirkan persepsi pikiran dan pendapat estetik yang cukup mendalam pada tiap ruang pikiran bagi masyarakat pencinta seni visual.

*Seni Visual*
Dunia lukisan sepakat menyatakan bahwa sebuah lukisan merupakan bentuk seni visual yang struktural.

Karena itu, dalam tiap lukisannya, Lully menajamkan persepsi tentang kaidah isi dan kekayaan estetik, sehingga sebelum meminati lukisannya, seseorang akan menelaah pokok pandangannya tentang nilai.

Keunikan Lully, ketika melukis dari gurat-garisnya kentara sekali begitu tertata. Dari unsur fisik yang meliputi titik, garis, bidang, bentuk, warna, dan tekstur karyanya memiliki unsur gelap dan terang.

Inilah yang disebut poros ungkap kreativitas –melalui prinsip dasar penataan pada lukisannya.

Mencermati lukisan bertajuk _*self portrait*_ tentang dirinya (dari foto pribadi barangkali), pelukis Lully menjelaskan tentang perilaku kehidupan.

BACA  Diduga Pipa Line PT. Pertamina di Prabumulih Bocor dan Cemari Sungai, Ini Jawaban Humas.!

Karena itu pernah pernik yang ia taburkan secara visual begitu beragam. Sebab, secara psikologolis, kacamata yang tertata dengan dua bentuk (bundar dan petak), menjelaskan tentang persepsi pandangan yang berbeda.

Misalnya, ketika ia menatap fokus pandangan pada seseorang, dari titik pandang tersebut memiliki persepsi yang berbeda. Karena tatapan dan pandangan yang difokuskan pada satu bidang masalah, akan muncul dua arti yang berbeda.

Kekayaan persepsi ini merupakan kekayaan ide dan kreativitas yang terdapat pada pikiran dan gagasannya disaat Lully berkarya.

Memang, seniman (pelukis) harus mempunyai persepsi yang beragam ketika ia menangkap ide dan gambaran isi dan maksud tertentu pada lukisannya.

Dengan demikian aspek cerdas yang digagasnya akan memiliki nilai estetika yang tinggi. Bahkan dari sisi finansial, harga lukisan tersebut tak dapat ditakar dengan besaran nilai angka jualnya.

*Unsur Fisik*
Lukisan _*self portrait*_ dilukis dengan cat acrylic di atas kanvas berukuran 70X60 sentimeter.

Dalam konteks ide dan kreativitas yang ditonjolkan, Lully selalu merunut lukisannya dengan tekstur dan pemanfaatan ruang yang padat tanpa menyisakan unsur kesia-siaan.

Artinya, tiap sudut ia isi dengan unsur warna, yang melambangkan titik gelap dan terang, sehingga kesan yang ditimbulkan pada gurat-garisnya terkesan padat.

Dari bentuk kacamata yang ditampilkan pada sosok, menjelaskan tentang perbedaan pandang (kaca bundar dan petak) meski kita melihat satu fokus persoalan di hadapan kita.

Secara psikologis, ketika ada seorang berwajah gembira, misalnya, fokus itu belum tentu mencerminkan fakta yang sesuai dengan hati nurani dan persoalan yang dihadapi orang tersebut.

Bisa saja ia menutupi keresahan hatinya lewat cahaya wajah yang gemibira. Padahal hatinya saat itu sedang dalam keadaan sedih dan semrawut.

Dari sini dapat kita nilai bagaimana prinsip dasar kecerdasan ide dan gagasannya si pelukis saat ia menetapkan garis, titik, bidang, bentuk, warna, tekstur, dan ruang gelap-terang.

BACA  Komplotan Hacker Website SIBOS Sekolah Diringkus Ditreskrimsus Polda Sumsel

Memang, melukis tentang satu obyek yang digagas seorang pelukis, memang tidak serta-merta langsung dipaparkan ke dalam kanvas.

Karena kita membutuhkan ruang pikiran yang luas untuk menetapkan bagaimana membentuk lukisan yang berkualitas dan menciptakan banyak persepsi dari bentuk isinya

Dari guratan awal, pelukis Lully selalu konsisten dengan nilai estetik yang akan ia paparkan ke dalam lukisan _*self portrait*_ yang ia garap. Maka hasil lukisan yang ia paparkan di atas kanvas tersebut benar-benar memukau penikmat seni lukis serta memberi kesan pelukis profesional.

Rasanya tidak terlalu berlebihan andaikan kita memberikan apresiasi cukup tinggi kepada Lully. Sebab, jika kita cermati secara estetik, tampaknya ia telah mengalami sejumlah pengalaman dari berbagai persoapan hidup.

Karena itu Lully kerap kali diminta masyarakat untuk selalu tampil dalam berbagai pameran tunggal dan tampil dengan sejumlah pelulis lainnya. Artinya, sebagai pelukis wanita, ia telah tercatat sebagai pelukis Indonesia yang cukup disegani.

Dari unsur lulisannya, kesan yang dapat ditangkap adalah ide kreatif dan pengolahan medium visualnya yang indah dan mengandung unsur psikologi sosial.

Dari garis, warna, dan tektur pada bidang datar, memberi kesan estetik yang sangat berkualitas. Sebab dari lukisan itu tergambar sejumlah persepsi yang menghadirkan makna, emosi, dan keindahan.

Dari garis dan bentuk lukisannya, terbangun nilai kerangka obyek yang melahirkan energi visual. Bahkan dari warna cerah yang dihadirkan Lully, lukisannya memberi tanda tentang suasana hati, karakter, dan kedalaman emosi.

Sebagai pelukis wanita yang profesional, Lully selalu ingat tentang efek nyata pada permukaan ilusi dimensi. Karena itu dari lukisan _*self portrait*_ ini pelukis wanita ini mampu menyampaikan pesan moral, kritik sosial dari kehidupan sejatinya sebagai pelukis Indonesia yang berkarakter. (*)

Penulis adalah seniman, sastrawan, dan jurnalis senior